Sabtu, 10 April 2010

CHAPTER 27: THE REQUIEM (PART 1: RESOLVE)

CHAPTER 27: THE REQUIEM (PART 1: RESOLVE)

“kau sudah kembali rupanya…” ucap seseorang yang berada di sebuah ruangan gelap yang besar dan juga terdapat lambang lingkaran bewarna ungu yang terletak di bendera yang ada di ruangan tersebut, seorang perempuan berambut perak, dengan mata bewarna merah darah, mengenakan pakaian hitam dan bandana hitam memasuki ruangan tersebut, “ya tuan… aku sudah berhasil menyelesaikan misi ku…” ucap perempuan tersebut, lelaki di ruangan tersebut tersenyum lebar dan mulai tertawa, “hahahahaha!! Ahahahahahaha!!! Bagus Sierra!! Terutama tugas mu kau selesaikan dengan sangat sempurna akhirnya kita bisa melanjutkan rencana kita ke tahap berikutnya!! Tapi sebelum itu…” ucap lelaki tersebut sambil berbalik dan menatap layar besar yang ada di depannya, di layar tersebut terdapat tiga gambar yang berbeda, yang paling kiri menunjukan gambar Caesar, yang di tengah menunjukan Tokyo Tower, sementara yang di kanan menunjukan Ryou dan yang lainnya yang sudah sampai di depan Tokyo Tower, “mari kita lihat tontonan menarik ini… siapa yang akan menang… apakah pion hitam… atau pion putih… hehehehehe” ucap orang tersebut.

“Dave!! Mii-chan!! Kau tidak apa-apa??” Tanya Marcel sambil berlari ke arah Dave dan Mike, “heh dasar bodoh seharusnya kau menghawatirkan diri mu sendiri… kau terluka lebih banyak dari kami…” ucap Mike sambil tersenyum, “a- aku tidak apa-apa!” ucap Marcel sambil menahan rasa sakitnya, “Marcel… Brendan sudah mati kan?” ucap Dave pelan, Marcel hanya diam saja mendengar apa yang di ucapkan Dave, “aku juga mendengarnya… suara yang mengatakan bahwa satu di antara kalian berdua telah tiada… dan karena kau di sini dalam keadaan baik-baik saja… berarti yang telah mati Brendan kan?” Tanya Dave, Marcel mengigit bibirnya, dan menahan air matanya, “ya Brendan telah meninggalkan kita untuk selamanya… dia gugur ketika bertarung melawan Dark Saber… tapi setidaknya salah satu kekuatan besar musuh berkurang…” ucap Marcel sambil menundukan kepalanya, “di mana tubuhnya?” Tanya Dave lagi, “aku meninggalkannya… lagipula aku tidak dapat membawa dua orang sekaligus…” ucap Arlan menjawab pertanyaan Dave, “bagus dengan itu dia tidak menjadi beban… setidaknya dia mati terhormat…” ucap Dave sambil mengambil scytchnya yang tertancap di tanah dan meunembodykannya, “baiklah… Arlan, Mike tolong habisi zombie-zombie yang tersisa… sementara aku dan Marcel akan menyusul yang lainnya menuju Tokyo Tower…” ucap Dave, sementara Arlan dan Mike mengangguk kemudian pergi berpencar.

Setelah itu Dave dan Marcel mulai berlari kembali ke arah Tokyo Tower, selama perjalanan Marcel terus menundukan kepalanya, tanpa dia sadari perlahan air matanya menetes, “pasti berat kan…” ucap Dave tiba-tiba, Marcel yang terkejut mengangkat kepalanya dengan keadaan air mata masih mengalir, Marcel yang menyadari dirinya menangis mulai mengusap air matanya, “tidak… aku tidak apa-apa kok…” ucap Marcel masih sambil mengusap air matanya, “tidak ada salahnya…” ucap Dave, Marcel yang mendengar itu kebingungan dan melihat ke arah Dave dengan raut muka penuh Tanya, “eh?” Tanya Marcel kebingungan, kemudian Dave menoleh dan melihat ke arah Marcel.

“menurut ku tidak ada masalahnya… untuk seorang laki-laki yang kehilangan temannya menangis… apa lagi dia kehilangan temannya untuk selamanya…” Marcel terdiam mendengar ucapan Dave, dia teringat ketika dia menemukan Brendan yang tidak sadarkan diri di menara jam Hakuo Gakuen dan membanya ke rumahnya, dia juga teringat ketika Brendan membantunya mengalahkan Garde setelah Neojamarcel Country miliknya di hancurkan oleh Garde, Marcel pun kembali menangis, “tapi bukan berarti itu menahan kita untuk terus maju dan berjalan di kehidupan kan?” Tanya Dave sambil melihat Marcel yang berhenti berlari, “ya… aku tahu itu… aku berjanji akan mengakhiri ini semua… perang konyol ini… yang sudah merebut banyak nyawa…” ucap Marcel, sementara Dave hanya tersenyum saja, setelah itu Marcel kembali berjalan dan mulai berlari kembali meninggalkan Dave di belakang, “ya… seekor burung tidak akan berhenti untuk terus terbang walaupun salah satu sayapnya terluka…” ucap Dave dalam hati, kemudian Dave juga mulai berlari mengejar Marcel.

“hey Partner…” ucap Arif sambil terus berjalan bersama Garaito di tengah kota yang sudah mulai mati tersebut, sementara Garaito hanya terdiam saja mendengar namanya di panggil oleh Arif, “hooo souka!! Kau menjadi tegang dan nervouskan karena yang berjalan di sebelah mu adalah orang terganteng di dunia~~” ucap Arif sambil menyombongkan dirinya, “apa lagi orang tersebut lebih kuat dari mu dan merupakan calon King of Overlord berikutnya~~” ucap Arif lagi, sementara Garaito terus berjalan, tapi perlahan-lahan dirinya mulai agak kesal dengan tingkah laku Arif, terlihat dari urat-uratnya yang mulai timbul di kepalanya, “tapi tidak apa-apa itu wajar dan aku maklumi itu~~ tapi jangan lupa menyembah ku ya ketika aku sudah menjadi King of Overlord~~~” ucap Arif lagi, kemudian Garaito berhenti dan menoleh ke arah Arif, urat-urat di kepala Garaito mulai bermunculan lebih banyak, “heeee?” ucap Garaito, kemudian Garaito berjalan ke arah Arif dan mengeluarkan katananya, “e-eto!! Aku cuman bercanda!!” ucap Arif sementara Garaito semakin mendekati Arif, dan mulai mengangkat katananya tinggi-tinggi, sementara Arif mulai berkeringat, “o-oi… a-aku cuman bercanda bisa hentikan?” Tanya Arif dan keringat yang mengucur dari tubuh Arif pun semakin banyak, sementara Garaito mulai mengayunkan pedangnya, “gyaaaaaaaaaa!!!!!!” teriak Arif.

“bisa diam tidak… kau benar-benar mengganggu…” ucap Garaito dengan nada yang kesal dan sambil menyarungkan katananya, sementara Arif yang terluka karena di serang Garaito kembali berdiri dan tertawa kecil, “hehehehehe memang itu tujuan ku… dengar partner di saat seperti ini kita tidak bisa bersifat tegang… atau kita…” ucap Arif dengan tubuh yang bergetar dan mengepalkan tangannya, “ternyata orang seperti dia juga bisa serius…” ucap Garaito dalam hati sambil tersenyum, kemudian Arif kembali membuka matanya dan menunjuk jari telunjuknya ke atas langit, “atau kita tidak bisa menguasai seluruh Loli di dunia ini!!!!!” teriak Arif, angin berhembus sunyi sementara Garaito hanya diam saja mendengar perkataan Arif, “kau… sayang aku tadi sempat memuji mu…” ucap Garaito sambil menutup matanya dan menaruh tangannya di mukanya kemudian Garaito mengeluarkan katananya kembali, “jangan hancurkan harapan ku yang tadi!!!” teriak Garaito, “gyaaaaaaaaaa!!!!!!!!” teriak Arif yang kesakitan setelah di pukul kembali oleh Garaito, kemudian Arif kembali bangun dan tiba-tiba terkejut sehingga dia berdiam diri seperti patung di depan Garaito, “ti-tidak mungkin…” ucap Arif sambil gemetaran dan menunjuk ke arah bayangan yang muncul di belakang Garaito, “ada apa?” Tanya Garaito kebingungan, “be- belakang mu… Arlan Gunadi!!!!!” teriak Arif sambil menunjuk Arlan, Arlan yang mendengar namanya di panggil berbalik dan melihat ke arah Arif, kemudian dia pun terkejut dan hanya berdiam diri, “nyaaaaaaa!!!!!!!!!” teriak Arlan yang terkejut.

“Tokyo Tower… kita sudah sampai…” ucap Ryou sambil memasuki Tokyo Tower bersama Garde, Andre, dan Ashley, sampai tiba-tiba muncul Rocket yang terbang ke arah mereka, Garde dan yang lainnya segera berpencar untuk menghindari Rocket tersebut, “siapa itu!!!” teriak Garde sambil meembody Blue Eyesnya, kemudian dari depan muncul sesosok orang yang ternyata adalah Cain, “kau lagi…” ucap Garde sambil bersiap-siap dengan ancang-ancang bertarung begitu juga dengan Ryou yang melakukan embody, tetapi kemudian Garde menyuruh Ryou berhenti dan menggelengkan kepalanya, “kau dan Ashley pergi lebih dulu menuju lantai teratas… aku dan Andre akan mengurus yang ada di sini” ucap Garde, “kalian yakin tidak apa-apa?” Tanya Ryou, dengan suara yang khawatir dan muka yang keliatan cemas, “tenang saja! Kau ragu dengan kekuatan kami?!” Tanya Andre tersenyum lebar ke arah Ryou, kemudian Ryou menggelengkan kepalanya, “baiklah… hanya saja jangan sampai kalah…” ucap Ryou, kemudian Ryou berlari ke depan bersama Ashley, “aku duluan… aku akan menunggu kalian…” ucap Ashley sambil meninggalkan Garde dan Andre, Cain yang berdiri di depan hanya berdiam saja dan membiarkan mereka lewat ke arah Lift, “tidak apa-apa membiarkan musuh mu lewat?” Tanya Garde tersenyum, “tidak apa-apa lagipula dia juga mengatakan bahwa yang hanya boleh ke atas hanyalah Ryou dan Ashley… dan sisanya boleh kubunuh… dan sepertinya aku tidak perlu menyembunyikan kekuatan asli ku lagi… Power Tool Dragon!!!” teriak Cain sambil memanggil Power Tool yang membentuk Launcher yang terpasang di tangannya, “heh percaya diri sekali…” ucap Garde tersenyum.

Kemudian Garde langsung berlari ke arah Cain, sementara Cain mulai menembaki Garde dengan tiga rocket yang di tembakan berturut-turut, rocket pertama berhasil di hindari oleh Garde dengan cara melompat, dan ketika rocket kedua mendekat Garde mengayunkan halbrednya untuk memotong rocket tersebut, hanya saja Garde tidak sempat bertindak atau memasang pertahanan ketika rocket ketiga mendekat sehingga Garde telak terkena serangan dari rocket ketiga yang menyebabkan ledakan yang besar dan melempar Garde ke belakang, kemudian dari asap yang masih tebal muncul Andre yang terus berlari ke arah Cain, kemudian Andre meembody subtitoadnya menjadi pisau kristal bewarna biru dan mulai menyerangi Cain dengan tebasan yang sangat cepat, tetapi Cain berhasil menghindari hampir semua tebasannya, sementara beberapa tebasan Andre hanya dapat membuat lecet beberapa bagian tubuh Cain, kemudian Cain berputar dan menghantamkan launchernya ke arah Andre dan membuat Andre terlempar setelah itu Cain langsung menembakan rocketnya ke arah Andre dan membuat Andre terlempar makin jauh.

“argh!!” teriak Andre yang kemudian jatuh di dekat Garde, “kau tak apa-apa Andre?” Tanya Garde sambil membantunya berdiri sementara Cain hanya melihat dari jauh, “aku tidak apa-apa” ucap Andre, sambil berdiri, sementara Cain mulai berjalan ke arah Andre dan Garde, “lebih baik kalian menyerah… kalian berdua tidak akan bisa menang melawan ku…” ucap Cain, Garde yang mendengar itu hanya terdiam saja kemudian dia melihat Cain dengan seksama, “siapa kau sebenarnya?” Tanya Garde dengan raut muka yang mengeras, “aku… Black Knight…” ucap Cain sambil terus berjalan menjauhi Garde dan Andre ketika jarak antara mereka sudah cukup jauh tiba-tiba Cain berhenti, “B, Black Knight?” Tanya Garde kebingungan, Cain pun berbalik dan mengangkat kedua tangannya, “begitu kau tidak tahu… mau tahu kenapa Nando berubah? Bukan kah dulu dia adalah orang yang baik? Itu semua karena Black Knight!! Mau tahu kenapa King of Underworld mulai bergerak? Itu semua karena Black Knight!! Mau tahu kenapa lima jenderal naga dapat terbentuk? Itu semua karena Black Knight!! Mau tahu kenapa banyak sejarah gelap di dunia ini menghilang? Itu semua karena Black Knight!! Intinya Black Knight adalah organisasi besar yang mengatur segala sesuatu yang ada di dunia ini… dan juga merupakan penyebab terjadinya Battle of Overlord beberapa puluh tahun yang lalu… dan yang merebut semuanya dari mu…” ucap Cain sambil tersenyum, Garde yang mendengar kata-kata terakhir Cain berdiri dan menunjukan espresi murka, “begitu jadi kau anggota dari organisasi terkutuk tersebut? Yang merubah Nando dan yang menghancurkan kota ku dulu… adalah Black Knight?!!” teriak Garde.

Kemudian Garde menyilangkan kedua tangannya dan dari kedua tangannya muncul sinar yang berbeda, “Synthesis Embody!!! Dreadnought!!” teriak Garde, dan ketika kedua sinar tersebut bersatu muncul sebuah tombak bewarna hitam dengan ukiran-ukiran bewarna emas di mata tombaknya, “kalau begitu kau adalah orang pertama dari mereka yang akan ku bunuh…” ucap Garde, sekilas Garde teringat akan senyum seorang perempuan yang sudah lama di lupakannya, “Garde sensei… perlu aku Bantu?” Tanya Andre sambil menahan rasa sakitnya, kemudian Garde menggeleng, “tidak perlu kau istirahatlah… aku akan menyelesaikannya” ucap Garde sambil kemudian berlari ke arah Cain, “omoshiroi… sudah lama aku tidak serius… baiklah kalau begitu…” ucap Cain sambil melepaskan Embodynya dan kemudian memunculkan dua sinar yang berbeda pula di mana yang satu bewarna merah dan yang satu bewarna kuning, “Power Tool!! Black Rose!! Synthesis Embody!! Deus Ex Machina!!!” teriak Cain, kemudian kedua sinar tersebut bersatu dan membentuk pedang raksasa dengan desain hi-tech, “maju lah…” ucap Cain sambil mulai menerjang Garde.

Ketika jarak mereka berdua mulai dekat Garde mulai mengayunkan Dreadnought ke bawah, tetapi Cain menghindarinya dengan cara melompat ke atas, setelah itu pedang milik Cain mulai terbuka dan membentuk bentuk lain yang menyerupai bor, setelah itu Cain menusukan bor tersebut ke arah Garde, tapi ujung bor tersebut di tahan oleh ujung dari mata tombak Dreadnought, setelah itu Garde mendorong Dreadnoughtnya dan membuat Cain terlempar beberapa meter, Cain yang terlempar segera mengambil posisi bertahan di udara dan kembali membuka pedangnya menjadi bentuk senapan berlaras dua, kemudian Cain menembakan beberapa peluru dari pistol tersebut ke arah Garde yang berhasil di tahan kembali oleh Garde menggunakan tombaknya, sementara Garde sibuk menahan tembakan dari Cain, Cain mulai mencharge cahaya dari laras yang satunya lagi, kemudian Cain tersenyum, “terimalah Garde… Burst Bullet!!” teriak Cain, dan setelah itu ia menembakan peluru tersebut ke arah Garde dengan kekuatan penuh, Garde yang dari tadi sibuk menahan serangan dari laras yang satu lagi gagal untuk menahan tembakan tersebut dan akhirnya terlempar jauh ke belakang dan menabrak salah satu kaki menara dari Tokyo Tower.

Cain kembali berjalan ke arah Garde yang masih mencoba untuk berdiri, Garde yang melihat Cain mendekat mencoba untuk berdiri sekuat tenaga tetapi luka yang di terimanya dari serangan barusan membuatnya susah untuk bergerak, sementara Cain semakin mendekati Garde dengan tersenyum lebar, setelah jarak mereka berdua sudah dekat Cain mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan kemudian menusukannya ke bahu kanan Garde dan mengangkatnya dengan keadaan pedang yang masih tertancap di bahu Garde, “argh!!” teriak Garde kesakitan dan kemudian Dreadnought milik Garde terjatuh dari genggamannya, Garde memegang pedang milik Cain dengan kedua tangannya dan berusaha melepaskannya dengan sekuat tenaga tetapi percuma, Cain yang melihat Garde meronta untuk melepaskan pedang miliknya tertawa keras dan kemudian menusukan pedang tersebut bersama Garde ke kaki menara Tokyo Tower yang ada di belakang Garde, Garde yang tertusuk hanya bisa meronta dan berteriak.

“hehehehe ahahahahaha!! Sungguh memalukan!! Apa kau kira dengan kekuatan seperti ini kau dapat menyelematkan perempuan kecil tersebut?! Ahahahahaha!! Apa kau pikir bisa?!!” teriak Cain kemudian Cain mengayunkan pedangnya ke belakang dan melempar Garde yang tertusuk ke arah pedang tersebut di ayunkan, “ah aku lupa ya benar.. perempuan tersebut… aku yang membunuhnya… Katrina!! Ya aku yang membunuh perempuan tersebut ketika kau sedang sibuk dengan Black Knight yang lainnya!!” teriak Cain, sementara Garde yang mendengar itu terkejut dan perlahan-lahan ingatan yang sudah lama dia lupakan kembali, ingatan tentang seorang anak perempuan berambut blonde yang dulu pernah di kenalnya.


“Garde-kun---“ kata-kata tersebut terus terngiang di kepala Garde

TO BE CONTINUED

NEXT CHAPTER: THE REQUIEM (PART 2: THE FORGOTEN MEMORY)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar